Semar
adalah tokoh wayang yang dibuat oleh sunan kalijaga untuk menyebarkan
dakwah Islam di tanah jawa. siapakah dan bagaimanakah semar itu? berikut
beberapa postingan tentang semar: 
Wikipesdia.com:
Semar
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Semar
Badranaya adalah tokoh punakawan yang dalam wayang Jawa/Sunda memiliki
peran yang lebih utama ketimbang wayang babon (wayang dengan tokoh asli
India). Merupakan Jelmaan dari Bambang Ismaya anak tertua dari Sang
Hyang Tunggal.
Kelahiran Semar
Sang
Hyang Wenang berputra satu yang bernama Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang
Tunggal kemudian beristri Dewi Rekatawati putri kepiting raksasa yang
bernama Rekata. Pada suatu hari Dewi Rekatawati bertelur dan dengan
kekuatan yang menetap dari Sang Hyang Tunggal. Telur tersebut terbang
menghadap Sang Hyang Wenang, akhirnya telur tersebut menetas sendiri
dengan berbagai keajaiban yang menyertainya, dimana kulit telurnya
menjadi Tejamantri atau Togog, putih telurnya menjadi Bambang Ismaya
atau Semar dan kuning telurnya menjadi Manikmaya yang kemudian menjadi
Batara Guru.
Dalam
riwayat lain telur tersebut menetas menajadi langit, bumi dan cahaya
atau teja. Sehingga dikatakan bahwa Semar adalah tokoh dominan sebagai
pelindung bumi.
Persaingan atas suksesi kepimimpinan
Mereka
bertiga sangat sakti dan semua ingin berkuasa seperti Ayahandanya Sang
Hyang Tunggal, akan tetapi menjadi perdebatan sehingga menimbulkan
pertengkaran. Dikisahkan atas (kecerdikan (?) atau keculasan (?)
Manikmaya) yang sebenarnya iapun mempunyai keinginan yang sama dengan
mereka, Manikmaya mengajukan usul perlombaan untuk menelan gunung
kemudian memuntahkannya kembali. Dari sini banyak pelajaran yang dapat
diambil karena gunung itu merupakan sesuatu untuk menancapkan atau
mengokohkan kedudukan dibumi akan tetapi diperlombakan untuk ditelan
walau kemudian untuk dimuntahkan kembali.Kemudian pelajaran yang diambil
adalah janganlah memperebutkan sesuatu yang bukan haknya serta
janganlah terhasut oleh usul yang nampaknya baik dan masuk akal.
Tejamantri
yang mulai perlombaan pertama ternyata gagal untuk menelan gunung,
dikarenakan tidak cukup ilmunya maka terjadi perubahan terhadap
mulutnya. Bambang Ismaya kemudian berusaha untuk menelan sebuah gunung
dan berhasil akan tetapi sesuatu yang sudah ditelan pasti akan berubah
dan Bambang Ismaya tidak dapat memuntahkannya kembali sehingga terjadi
perubahan fisik pada perutnya yang membesar. Secara ilmu memadai akan
tetapi kurang untuk memuntahkannya kembali.
Karena
menelan gunung inilah maka bentuk Semar menjadi besar, gemuk dan
bundar. Proporsi tubuhnya sedemikian rupa sehingga nampak sebagai orang
cebol. Manikmaya dalam cerita tidak dikatakan mengikuti perlombaan meski
ia sendiri yang mengusulkan perlombaan ini, ia dikabarkan malah pergi
memberitahukan periha kedua kakaknya kepada Sang Hyang Wenang. Atas
berita dari Manikmaya tersebut Sang Hyang Wenang membuat keputusan bahwa
Manikmayalah yang akan menerima mandat sebagai penerus dan menjadi raja
para dewa.
Akibat termakan hasutan dan tidak dapat menguasai diri
Bambang
Ismaya dan Tejamantri harus turun kebumi, untuk memelihara keturunan
Manikmaya, keduanya hanya boleh menghadap Sang Hyang Wenang apabila
Manikmaya bertindak tidak adil. Dari sini terlihat dengan termakan isu
adu domba ternyata Bambang Ismaya dan Tejamantri turun harkat derajatnya
hanya sebagai pelindung keturunan Manikmaya, semoga kita dapat
mengambil pelajaran disini dan semoga bangsa kita ini jangan mau diadu
domba lagi.
Dalam
cerita Semar Gugat terjadi perselisihan antara Batara Guru yang
menyamar menjadi Resi Wisuna dengan Semar dimana Batara Guru kehilangan
nalarnya karena rasa kasih sayang terhadap anaknya Batara Kala. Semar
mengalami perang tanding dengan Resi Wisuna yang tidak lain adalah
Batara Guru/adiknya sendiri, dimana Semar terkena senjata Trisara
sehingga menyebabkan Semar gugat ke Sang Hyang Wenang.
Turun derajat dan diganti nama
Sang Hyang Wenang kemudian mengganti nama-nama mereka.
1. Manikmaya menjadi Batara Guru.
2. Tejamantri berubah menjadi Togog.
3. Bambang Ismaya berubah nama menjadi Semar.
Tugas dan Jabatan
Kakak
dari Batara Guru yang menguasai Swargaloka. Berada di Bumi untuk
memberikan nasihat atau petuah petuah baik bagi para Raja Pandawa dan
Ksatria juga untuk audiens tentunya. Memiliki Pusaka Hyang Kalimasada
yang dititipkan kepada Yudistira yang merupakan pusaka utama para
Pandawa. Memiliki tiga anak dari Istrinya Sutiragen, dalam versi Jawa
Tengah maupun Timur adalah : Gareng, Petruk, Bagong. Sedangkan dalam
versi Sundanya bernama : Astrajingga (Cepot), Dawala, dan Gareng
(bungsu).
Semar
Badranaya adalah tokoh Lurah dari desa (Karang) Tumaritis yang
merupakan bagian dari Kerajaan Amarta dibawah pimpinan Yudistira.
Meskipun peranannya adalah Lurah namun sering dimintai bantuan oleh
Pandawa dan Ksatria anak-anaknya bahkan oleh Batara Kresna sendiri bila
terjadi kesulitan.
Kehebatan Semar
Disini hanya akan diungkapkan sebagian saja dari kehebatan-kehebatan Semar, diantaranya adalah :
* Tokoh ini bersama tokoh punakawan lainnya dibuat oleh para wali
diantaranya Sunan Kalijaga dalam menebarkan Agama Islam di Jawa yang
melalui akulturasi budaya. Dengan adanya tokoh punakawan, pagelaran
cerita wayang menjadi lebih hidup karena ada dialog dan interaksi antara
dalang (wayang) dengan audiens serta merupakan sentral para dalang
dalam menyampaikan nasihat nasihat dalam lakon atau pertunjukkan yang
mungkin tidak dapat dicerna oleh orang awam bila tidak menggunakan tokoh
tokoh punakawan. Istilah Pusaka Hyang Kalimusada merupakan perlambang
Dua Kalimat Syahadat.
* Kehebatan lainnya adalah memiliki Wahyu Tejamaya, yang sangat
diperebutkan oleh Pandawa maupun Kurawa atau siapa saja yang hendak
memimpin alam ini, sebaiknya menguasai Wahyu Tejamaya ini.
* Karena Semar telah menelan gunung maka ada yang menganggap bahwa
Semar merupakan lamabang dari alam semesta juga, dengan kata lain Semar
dianggap sama dengan akal budi Ratu Adil, meskipun peranan Semar sebagai
pembantu, perbuatannya menunjukkan bahwa ia adalah tokoh utama atau
pokok dan bukanlah ia merupakan tokoh marjinal atau kecil yang tak
berarti. Kesederhanaan pada umumnya orang Jawa menganggap sebagai tanda
bahwa orang itu dapat menguasai diri dan sekitarnya dan juga mempunyai
kekuatan mengekang nafsu keduniawian setiap waktu dan tidak terpengaruh
olehnya. Sebagai tokoh yang tertua namun Semar tidak ingin memegang
nafsu kekuasaan duniawi.
* Pada dasarnya menurut mitos kesaktian Semar ini hampir tidak terbatas.
Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia
Filosofi, Biologis Semar
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna
kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan
kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai
pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal". Sedang
tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta selakigus
simbul keilmuaan yang netral namun simpatik".
Domisili semar
adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel =
keteguhan jiwa. Rambut semar "kuncung" (jarwadasa/pribahasa jawa kuno)
maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian
pelayan.
Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat,
tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda
Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : "dalam perjalanan anak
manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang
keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat".
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun
manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran
di bumi.
ciri sosok semar adalah
Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan
terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar,
jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.
Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan
sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis
tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi,
persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi
spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat
bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber
keTuhan-an yang Maha Esa.
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat
dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah
dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .
Gambar tokoh Semar nampaknya
merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang
kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi:
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
KASKUS.US:
KAKANG SEMAR LAN ANTAGA KAKI WECAN TUNJUNG SETA TUMEKA KAKI SEMAR GINUBAH DENING : PANEMBAHAN PRAMANA SETA ING GIRIMAYA
Paradoks Semar Oleh JAKOB SUMARDJO
PARA pencinta wayang kulit Jawa tentu tak asing lagi dengan tokoh
Semar. Setiap pertunjukan tokoh ini selalu hadir. Semar dan anak-anaknya
selalu menjadi pelayan atau pembantu kesatria yang baik, umumnya Arjuna
atau anak Arjuna, penengah Pandawa. Semar adalah sebuah filsafat, baik
etik maupun politik. Di balik tokoh hamba para kesatria ini, terdapat
pola pikir yang mendasarinya.
Tokoh Semar juga disebut Ismaya,
yang berasal dari Manik dan Maya. Manik itu Batara Guru, Maya itu Semar.
Batara Guru menguasai kahiyangan para dewa dan manusia, sedangkan Semar
menguasai bumi dan manusia. Manik dan Maya lahir dari sebuah wujud
sejenis telur yang muncul bersama suara genta di tengah-tengah
kekosongan mutlak (suwung-awang-uwung).
Telur itu pecah menjadi
kenyataan fenomena, yakni langit dan bumi (ruang, kulit telur), gelap
dan terang (waktu, putih telur), dan pelaku di dalam ruang dan waktu
(kuning telur menjadi Dewa Manik dan Dewa Maya). Begitulah kisah Kitab
Kejadian masyarakat Jawa.
Kenyataannya, ruang-waktu-pelaku itu
selalu bersifat dua dan kembar. Langit di atas, bumi di bawah. Malam
yang gelap, dan siang yang terang. Manik yang tampan dan kuning
kulitnya, Semar (Ismaya) yang jelek rupanya dan hitam kulitnya. Paradoks
pelaku semesta itu dapat dikembangkan lebih jauh dalam rangkaian
paradoks-paradoks yang rumit.
Batara Guru itu mahadewa di dunia
atas, Semar mahadewa di dunia bawah. Batara Guru penguasa kosmos
(keteraturan) Batara Semar penguasa keos. Batara Guru penuh etiket sopan
santun tingkat tinggi, Batara Semar sepenuhnya urakan.
Batara
Guru simbol dari para penguasa dan raja-raja, Semar adalah simbol rakyat
paling jelata. Batara Guru biasanya digambarkan sering tidak dapat
mengendalikan nafsu-nafsunya, Semar justru sering mengendaikan
nafsu-nafsu majikannya dengan kebijaksanaan -- kebijaksanaan. Batara
Guru berbicara dalam bahasa prosa, Semar sering menggunakan bahasa
wangsalan (sastra).
Batara Guru lebih banyak marah dan
mengambil keputusan tergesa-gesa, sebaliknya Semar sering menangis
menyaksikan penderitaan majikannya dan sesamanya serta penuh kesabaran.
Batara Guru ditakuti dan disegani para dewa dan raja-raja, Semar
hanyalah pembantu rumah tangga para kesatria. Batara Guru selalu hidup
di lingkungan yang "wangi", sedang Semar suka kentut sembarangan. Batara
Guru itu pemimpin, Semar itu rakyat jelata yang paling rendah.
Seabrek paradoks masih dapat ditemukan dalam kisah-kisah wayang kulit.
Pelaku kembar semesta di awal penciptaan ini, Batara Guru dan Batara
Semar, siapakah yang lebih utama atau lebih "tua"? Jawabannya terdapat
dalam kitab Manik-Maya (abad ke-19).
Ketika Batara Semar protes
kepada Sang Hyang Wisesa, mengapa ia diciptakan dalam wujud jelek, dan
berkulit hitam legam bagai kain wedelan (biru-hitam), maka Sang Hyang
Wisesa (Sang Hyang Tunggal?) menjawab, bahwa warna hitam itu bermakna
tidak berubah dan abadi; hitam itu untuk menyamarkan yang sejatinya
"ada" itu "tidak ada", sedangkan yang "tidak ada" diterka "bukan", yang
"bukan" diterka "ya".
Dengan demikian Batara Semar lebih "tua"
dari adiknya Batara Guru. Semar itu "kakak" dan Batara Guru itu "adik",
suatu pasangan kembar yang paradoks pula.
Semar itu lambang
gelap gulita, lambang misteri, ketidaktahuan mutlak, yang dalam beberapa
ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidaktahuan kita mengenai
Tuhan.
Mengingat genealogi Semar yang semacam itu dalam budaya
Jawa, maka tidak mengherankan bahwa tokoh Semar selalu hadir dalam
setiap lakon wayang, dan merupakan tokoh wayang yang amat dicintai para
penggemarnya. Meskipun dia hamba, rakyat jelata, buruk rupa, miskin,
hitam legam, namun di balik wujud lahir tersebut tersimpan sifat-sifat
mulia, yakni mengayomi, memecahkan masalah-masalah rumit, sabar,
bijaksana, penuh humor.
Kulitnya, luarnya, kasar, sedang
dalamnya halus. ** DALAM ilmu politik, Semar adalah pengejawantahan dari
ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yakni "manunggaling kawula-Gusti"
(kesatuan hamba-Raja). Seorang pemimpin seharusnya menganut filsafat
Semar ini.
Seorang pemimpin sebesar bangsa Indonesia ini harus
memadukan antara atas dan bawah, pemimpin dan yang dipimpin, yang diberi
kekuasaan dan yang menjadi sasaran kekuasaan, kepentingan hukum negara
dan kepentingan objek hukum.
Hukum-hukum negara yang baik dari
atas, belum tentu berakibat baik, kalau yang dari atas itu tidak
disinkronkan dengan kepentingan dan kondisi rakyat. Manunggaling
kawula-Gusti. Pemimpin sejati bagi rakyat itu bukan Batara Guru, tetapi
Semar. Pemimpin sejati itu sebuah paradoks.
Semar adalah kakak
lebih tua dari Batara Guru yang terhormat dan penuh etiket
kenegaraan-kahiyangan, tetapi ia menyatu dengan rakyat yang paling papa.
Dengan para dewa, Semar tidak pernah berbahasa halus, tetapi kepada
majikan yang diabdinya (rakyat) ia berbahasa halus.
Semar
menghormati rakyat jelata lebih dari menghormati para dewa-dewa pemimpin
itu. Semar tidak pernah mengentuti rakyat, tetapi kerjanya membuang
kentut ke arah para dewa yang telah salah bekerja menjalankan
kewajibannya. Semar itu hakikatnya di atas, tetapi eksistensinya di
bawah.
Badan halusnya, karakternya, kualitasnya adalah tingkat
tinggi, tetapi perwujudannya sangat merakyat. Semar gampang menangis
melihat penderitaan manusia yang diabdinya, itulah sebabnya wayang Semar
matanya selalu berair. Semar lebih mampu menangisi orang lain daripada
menangisi dirinya sendiri. Pemimpin Semar sudah tidak peduli dan tidak
memikirkan dirinya sendiri, tetapi hanya memikirkan penderitaan orang
lain. Ego Semar itu telah lenyap, digantikan oleh "yang lain".
Semar itu seharusnya penguasa dunia atas yang paling tinggi dalam
fenomena, tetapi ia memilih berada di dunia bawah yang paling bawah.
Karena penguasa tertinggi, ia menguasai segalanya. Namun, ia memilih
tidak kaya. Semar dan anak-anaknya itu ikut menumpang makan dalang,
sehingga kalau suguhan tuan rumah kurang enak karena ada yang basi, maka
Semar mencegah anak-anaknya, yang melalui dalang, mencela suguhan tuan
rumah. Makanan apa pun yang datang padanya harus disyukuri sebagai
anugerah. Batara Semar, di tanah Sunda, dikenal dalam wujud Batara
Lengser.
Lengser, longsor, lingsir, selalu berkonotasi "turun".
Semar itu adalah pemimpin tertinggi yang turun ke lapis paling bawah.
Seorang pemimpin tidak melihat yang dipimpinnya dari atas singgasananya
yang terisolasi, tetapi melihat dari arah rakyat yang dipimpinnya.
Seorang pemimin tidak menangisi dirinya yang dihujat rakyat, tetapi
menangisi rakyat yang dihujat bawahanbawahannya. Seorang pemimpin tidak
marah dimarahi rakyatnya, tetapi memarahi dirinya akibat dimarahi
rakyat.
Pemimpin sejati itu, menurut filsafat Semar, adalah
sebuah paradoks. Seorang pemimpin itu majikan sekaligus pelayan, kaya
tetapi tidak terikat kekayaannya, tegas dalam keadilan untuk memutuskan
mana yang benar dan mana yang salah namun tetap berkasih sayang.
Filsafat paradoks kepemimpinan ini sebenarnya bersumber dari kitab
Hastabrata atau Delapan Ajaran Dewa.
Dewa Kekayaan
berseberangan dengan Desa Kedermawanan, yang bermakna seorang pemimpin
harus mengusahakan dirinya (dulu, sebagai raja) agar kaya raya, tetapi
kekayaan itu bukan buat dirinya, tetapi buat rakyat yang dipimpinnya.
Pemimpin Indonesia sekarang ini selayaknya seorang enterpreneur juga,
yang lihai menggali kekayaan buat negara. Dewa Keadilan berseberangan
dengan watak Dewa Kasih Sayang.
Seorang pemimpin harus membela
kebenaran, keadilan, tetapi juga mempertimbangkan rasa keadilannya
dengan kasih sayang untuk memelihara kehidupan.
Dewa Api
(keberanian) itu berseberangan dengan Dewa Laut (air), yakni
keberaniannya bertindak melindungi rakyatnya didasari oleh pertimbangan
perhitungan dan kebijaksanaan yang dingin-rasional. Dewa Maut
berseberangan dengan watak Dewa Angin.
Menumpas kejahatan dalam
negara itu harus dipadukan dengan ketelitiannya dalam mengumpulkan
detail-detail data, bagai angin yang mampu memasuki ruang mana pun.
Ajaran tua tentang kekuasaan politik bersumber dari Hastabrata
tersebut, dan dimitoskan dalam diri Semar yang paradoks itu. Etika
kekuasaan itu ada dalam diri tokoh Semar. Ia Dewa Tua tetapi menjadi
hamba.
Ia berkuasa tetapi melayani. Ia kasar di kalangan atas,
tetapi ia halus di kalangan bawah. Ia kaya raya penguasa semesta, tetapi
memilih memakan nasi sisa. Ia marah kalau kalangan atas bertindak tidak
adil, ia menyindir dalam bahasa metafora apabila yang dilayaninya
berbuat salah. Bentuk badan Semar juga paradoks, seperti perempuan
tetapi juga mirip lelaki, kombinasi ketegasan dan kelembutan